DI RESTORAN
Langit belum berubah juga.
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
bistik ayam dan blueberry iced blended.
dan kau, entah memesan apa.
Sebelum aku bertemu denganmu.
Aku turun dari ranjang lalu bersingkat dan membuka jendala
lalu menatap langit biru seraya bertanya-tanya apa gerangan
yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar-semesta.
sampai bisa mengabulkan doaku.
Langit belum berubah juga.
Lalu aku siap-siap menemuimu. dan itu pun butuh persiapan
persiapan apa saja nanti yang aku bicarakan kepadamu, persiapan uang saku untuk membayarmu nanti, persiapan seragam dan tentunya itu semua harus ku persiapan karena perjalanan bersamamu belum tentu seasik yang ku bayangkan.
Dan akhirnya kita bertemu.
aku yang memperhatikanmu dari seberang jalan terpaku
"hay" katamu
"hay juga" " ayo langsung aja "
kataku sambil tidak memperhatikanmu ternyata kamu sudah duduk saja dibelakangku.
Langit belum berubah juga.
Sesampai di tempat yang ku janjikan kepadanya
"yah tutup" kataku, terus mau kemana lagi nih?. tanya ku.
" yah gimana ya, aku gk tahu daerah sini, tahunya di daerah rumahku saja" sambil raut kebingungan.
dan aku terdiam dan membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan.
" yudah ke tempat sini aja yuk, lebih dket", dan akupun tahu jalannya" katamu.
" oke" Lalu kami berdua berangkat setelah mengelilingi lingkaran-lingkaran jalan yang sebentar lagi turun hujan.
Langit belum berubah juga.
Telah sampai. dan kami pun mencari apa yang harus dicari.
Hal lucu pun terjadi.
Dan masih sama langit belum berubah juga.
Pesan masuk dari ponselku; ketika aku telah selesai bencengkrama kepada Tuhan.
"Bib kebawah!
Ada temanku,
gak enak aku,
jangan bilang-bilang.
Kamu jangan kesini dulu ya"
"Iya" sambil ketawa terpingkal-pingkal
Dan masih tetap sama langit berubah juga.
Usai sudah apa yang ku cari sudah ku dapatkan. dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
Dan akhirnya langit berubah.
Hujan sore itu meneduhkan kami
di sebuah restoran.
kami berteduh untuk sementara.
Dan akhirnya langit berubah
Disinilah kau memulai cerita tentang siapa dirimu, tentang masa lalumu, tentang ketertarikan mu pada lawan jenismu, tentang keluargamu, gurumu, serta teman-temanmu. dan juga tentang harapan orang tuamu tentunya. Jujur aku senang bisa mendengarkan ceritamu. Walaupun kamu tidak menanyakan hal yang sama.
Dan akhirnya langit berubah menjadi pekat.
Selasai sudah coletahanmu sore itu.
Jujur aku senang.
Sesudah itu teman mu datang untuk menemuimu.
Seperti tak bisa kutolak matahari menciptakan bunga-bunga.
akhirnya kamu dan temanmu memutuskan untuk pulang berdua.
dan akupun meng"Iya"kan.
"yah aku ganggu ya" kata temanmu.
"engga kok, santai aja"sambil tersenyum
"bib pulang deh kan udh sore, janjinya kan buat nemenin buat beli sesuatu aja kan?" katamu
"iya" walaupun hati ingin berkata lain.
Dan akhirnya kalian berdua pamit, dan bepisah. begitupun kamu.
"makasih udh mau traktirin aku" kataku
"iya sama-sama" sambil tersenyum.
Dan langit itu berubah menjadi butiran-butiran air.
Lama ku terdiam, memandangi jendela restoran.
Dan angin berbisik kepada daun jatuh "aku rindu, aku ingin bertemu lagi dengannya"
dan tiang listrik memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan tangan-tangan dinginnya, "jangan berisik, mengganggu hujan saja"
dan hujan meludah di ujung jendela yang aku tempati, "Lepaskan daun itu".
-November 2018-
Lanjutkan ...good writing
BalasHapusTerima kasih pak. Amiinn
BalasHapus