Kisah Ayah
Disebuah kursi tua sembari menghirup teh panas
tiba-tiba ayah memanggilku
nak; ayah ingin mengobrol denganmu
serasa hujan pagi ini berbisik kepadaku. iya yah.
kabut yang likat telah memasuki halaman rumah, tentunya tanpa pamit
dan ayah, masih asik dengan ceritanya.
matahari menggeliat dan kembali
munculah pelangi pagi itu.
selepas menikmati air-air langit sedang menari dengan gembira,
yang kuingat dari perkataanya;
Ibumu dulu kadang seperti matahari, kadang seperti hujan dan kadang seperti pelangi.
maksudnya yah?
ketika ibu mu remaja dia bagaikan matahari pagi. Indah, banyak yang tertarik dengannya. banyak yang ingin mengutarakan perasaan. Sampai-sampai ayah tak yakin untuk mendekatinya. Tapi takdir berkata lain. dan ketika ayah sudah mendekatinya, sudah menikahi ibumu. dia seperti hujan.
Banyak menangis, banyak bercerita tentang masa lalu yang belum pernah diceritakan kepada siapapun selain ayah. termasuk masalah perasaan.
tapi tetap teduh. nah seperti hujanlah; ibumu sangat cantik sekali. persis seperti hujan pagi ini.
Ayah berhenti, jam didinding pun berdering menunjukan pukul 7.
Kupandang raut muka ayah.
kemudian daun bertahan pada tangkainya.
dan ketika hujan reda.
Ayah tiba-tiba membetulkan tempat duduknya,
Nah Ketika Ibumu melahirkan kamu pada saat itulah ibumu seperti pelangi.
Semua pengharapan, keperibadian, sifat, kecerdasan, keberanian, tertular kepadamu.
Kamu nak pelangi ibumu. berinkarnasi didalam dirimu. Aku terdiam.
Dan hujan turun di halaman rumah waktu itu
mengabur dalam memori ayah.
dan kami berdua tiba-tiba
terngadah ke langit: kosong-sepi.
Dan aku; masih memikirkan perkataan ayah: Perempuan itu kadang seperti Matahari, kadang seperti hujan dan kadang seperti pelangi.
tiba-tiba ayah memanggilku
nak; ayah ingin mengobrol denganmu
serasa hujan pagi ini berbisik kepadaku. iya yah.
kabut yang likat telah memasuki halaman rumah, tentunya tanpa pamit
dan ayah, masih asik dengan ceritanya.
matahari menggeliat dan kembali
munculah pelangi pagi itu.
selepas menikmati air-air langit sedang menari dengan gembira,
yang kuingat dari perkataanya;
Ibumu dulu kadang seperti matahari, kadang seperti hujan dan kadang seperti pelangi.
maksudnya yah?
ketika ibu mu remaja dia bagaikan matahari pagi. Indah, banyak yang tertarik dengannya. banyak yang ingin mengutarakan perasaan. Sampai-sampai ayah tak yakin untuk mendekatinya. Tapi takdir berkata lain. dan ketika ayah sudah mendekatinya, sudah menikahi ibumu. dia seperti hujan.
Banyak menangis, banyak bercerita tentang masa lalu yang belum pernah diceritakan kepada siapapun selain ayah. termasuk masalah perasaan.
tapi tetap teduh. nah seperti hujanlah; ibumu sangat cantik sekali. persis seperti hujan pagi ini.
Ayah berhenti, jam didinding pun berdering menunjukan pukul 7.
Kupandang raut muka ayah.
kemudian daun bertahan pada tangkainya.
dan ketika hujan reda.
Ayah tiba-tiba membetulkan tempat duduknya,
Nah Ketika Ibumu melahirkan kamu pada saat itulah ibumu seperti pelangi.
Semua pengharapan, keperibadian, sifat, kecerdasan, keberanian, tertular kepadamu.
Kamu nak pelangi ibumu. berinkarnasi didalam dirimu. Aku terdiam.
Dan hujan turun di halaman rumah waktu itu
mengabur dalam memori ayah.
dan kami berdua tiba-tiba
terngadah ke langit: kosong-sepi.
Dan aku; masih memikirkan perkataan ayah: Perempuan itu kadang seperti Matahari, kadang seperti hujan dan kadang seperti pelangi.
Komentar
Posting Komentar