Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Mereka yang Menulis

Mereka yang Menulis. Itu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada masalahnya Jatuh cinta pada amarahnya Jatuh cinta pada kegelisahannya Sehingga mereka mau repot-repot menuangkannya pada sebuah (rekaman kata, status wa, status instagram), atau apapun itu. Seperti hal nya hari ini, aku cermati kamu dari statusmu. Dan aku tidak usah repot-repot menanyakan kabarmu hari ini, bukan? karena aku sudah tahu. Bahwa kamu sedang baik-baik saja. Teruslah menulis, hingga suatu hari nanti aku akan mewujudkannya tentang kamu menunggu seseorang yang tak tahu kapan dia datang, Dan Aku Pasti Datang. Mereka yang Menulis. Jatuh cinta pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, mungkin mereka tidak menyadari hal tersebut, hingga kelak di suatu hari nanti mereka akan memutar kembali rekaman kata dan tulisannya sendiri. Dan saat Mereka yang Menulis. Saat keadaan mereka telah berubah, saat hidupnya berjalan dengan baik, saat pikiran semakin jernih dan mulai berfikir dewasa, Maka mereka ak...

DI RESTORAN

Langit belum berubah juga. Kita berdua saja, duduk. Aku memesan bistik ayam dan blueberry iced blended. dan kau, entah memesan apa. Sebelum aku bertemu denganmu. Aku turun dari ranjang lalu bersingkat dan membuka jendala lalu menatap langit biru seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar-semesta. sampai bisa mengabulkan doaku. Langit belum berubah juga. Lalu aku siap-siap menemuimu. dan itu pun butuh persiapan persiapan apa saja nanti yang aku bicarakan kepadamu, persiapan uang saku untuk membayarmu nanti, persiapan seragam dan tentunya itu semua harus ku persiapan karena perjalanan bersamamu belum tentu seasik yang ku bayangkan. Dan akhirnya kita bertemu. aku yang memperhatikanmu dari seberang jalan terpaku "hay" katamu "hay juga" " ayo langsung aja " kataku sambil tidak memperhatikanmu ternyata kamu sudah duduk saja dibelakangku. Langit belum berubah juga. Sesampai di tempat yang ...

Kisah Ayah

Disebuah kursi tua sembari menghirup teh panas tiba-tiba ayah memanggilku nak; ayah ingin mengobrol denganmu serasa hujan pagi ini berbisik kepadaku. iya yah. kabut yang likat telah memasuki halaman rumah, tentunya tanpa pamit dan ayah, masih asik dengan ceritanya. matahari menggeliat dan kembali munculah pelangi pagi itu. selepas menikmati air-air langit sedang menari dengan gembira, yang kuingat dari perkataanya; Ibumu dulu kadang seperti matahari, kadang seperti hujan dan kadang seperti pelangi. maksudnya yah? ketika ibu mu remaja dia bagaikan matahari pagi. Indah, banyak yang tertarik dengannya. banyak yang ingin mengutarakan perasaan. Sampai-sampai ayah tak yakin untuk mendekatinya. Tapi takdir berkata lain. dan ketika ayah sudah mendekatinya, sudah menikahi ibumu. dia seperti hujan. Banyak menangis, banyak bercerita tentang masa lalu yang belum pernah diceritakan kepada siapapun selain ayah. termasuk masalah perasaan. tapi tetap teduh. nah seperti hujanlah; ibum...

Pesan Ibu kepada Anak Laki-lakinya Tentang Cinta

Nak, besok kalau kamu menyukai seorang perempuan, tidak apa-apa bila ibu tidak tahu karena mungin kamu malu mengatakannya. Ibu hanya berpesan agar kamu jangan sembarangan mengutarakan perasaanmu itu kepadanya. Kalau kamu benar-benar mau mengutarakannya, maka kamu harus mengabarkannya dahulu kepada ayah dan ibunya. Karena ini bukan masalah main-main. Nak, bila kamu merasa belum cukup berani mengatakannya, maka jagalah dia dengan menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali menyebutkan namanya sembarangan, itu bisa menjatuhkan kehormatannya dan juga bisa menjatuhkan perasaannya. Nak, saran ibu, kamu diamlah tapi tetap bergerak karena diam. mengerti?, (tidak bu)hehe, gini nak. Banyak laki-laki diluar sana tampil bak pahlawan seperti superhero kesiangan, yang seolah-olah selalu ada ketika dia dibutuhkan. Kamu sembunyilah di tempat paling aman tapi kamu selalu terjaga untuk membuatnya tetap aman. Mudahkanlah segala urusannya. Bantulah ia menyelesaikan masalah diam-diam, buatlah dia ...

Menjelang Kelahiran

Hari ini adalah hari kelahiranku. Jauh sebelum aku melihat dunia yang begitu indah. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Jujur. Aku tidak meminta kepada Tuhan untuk menjadikan sebagai Laki-laki. Kenapa? Karena ketika aku tahu aku adalah laki-laki ketika lahir, aku menangis, (kalo lu lahir gk nangis berarti bisa jadi kemungkinan lu bisu dan tuli)wkwk. Betapa tidak, tanggung jawabku sangat besar dan berat selagi aku sibuk bermain-main, tanpa arah dan tujuan. Dalam genggaman tanganku dan diatas bahuku aku disuruh memikul tanggung jawab pada empat perempuan : Ibu, istri, saudara perempuan, dan anak perempuan. Apakah aku sanggup? Dan Ketika aku diwajibkan mencari nafkah untuk keluargaku, meski habis tenaga dan fikiran. Apakah aku masih kuat untuk mencukupi mereka semua? dan tidak membuat mereka kelaparan? dan ketika aku diwajibkan mengangkat senjata dan melindungi kehormatan keluargaku dan agamaku, nyawa kutaruhkan dimuka. Beranikah aku? Dan Aku hari ini ditakdirkan menjadi ...

TUHAN DAN RAHASIA

Ketika aku ditanya tentang hal apa yang ingin aku ketahui dari HIDUP. Hanya ada satu hal yang ingin aku ketahui. Bukan soal kaya atau miskinku. Siapa jodohku, atau lagi dekat sama siapa sekarang ataupun pertanyaan tentang perasaan ku kepada seseorang yang baru aku kenal. Melainkan Bagaimana masa depanku. Satu hal itu adalah, memaafkanlah Tuhan atas segala dosaku? Aku hanya ingin tahu satu hal itu saja. Selebihnya aku tidak perlu. Aku hanya butuh maaf (Maaf karena aku telah jatuh cinta padamu) cie wkwk, tidak. Maksudku Aku hanya butuh maaf-Nya dalam hidup ini. Sebab aku sudah banyak berlaku salah dan dosa. Sebab kesalahan itu selalu menghantuiku hingga saat ini. Hendak memilih mati pun. Itu sebuah kesalahan. Tuhan melarangku mengakhiri hidupku sendiri. Tidak mengapa aku lepaskan dunia ini. Asal aku tahu. bahwa dia memaafkanku. Aku takut aku tidak berkesempatan masuk surganya. Aku takut, kelak di hari penghakiman. Seluruh dosaku diberitakan tanpa dimaafkan satu pun. Setidak...